Jumat, 24 April 2009

AlamKu

Kubuka jendela kamarku

Sang bayu pun menyapaku lembut

Burung-burung pun berkicau

Menambah indahnya alamku

Ikan berenang dengan leluasa di kali

Matahari yang bersinar dengan cerah di pagi hari

Kelelawar hinggap di dahan buah yang matang dan ranum

Bocah kecil berlarian mencari jangkrik di danau

Tapi alamku kini sudah tidak ramah lagi

Karena terkena polusi

Tapi alam ku kini sudah tidak ramah lagi

Karena terimbas ambisi

Bulan pun tak mau nongol sekedar menyapa

Malas terhalang kabut tebal polusi udara

Ga’ mungkin ada, lenyap entah kemana

Sirnalah sudah mati saja, hanya tinggal kenangan…

Bumi kita yang kaya

Bukan hanya milik kita

Marilah saling membaginya

Sama Rata dan Sama Rasa…

Jumat, 10 April 2009

Jalanan! surga bagi para kaum yang termajinalkan


Jalan raya bukanlah sekadar tempat untuk bertahan hidup. Bagi kaum muda jalanan juga arena untuk menciptakan satu organisasi sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi untuk keberadaaan eksistensinya. Artinya ia juga berupaya melakukan penghindaran atau melawan pengontrolan dari pihak lain.

Sebuah kategori sosial, anak jalanan, bukanlah satu kelompok yang homogen. Sekurang-kurangnya ia bisa dipilah ke dalam dua kelompok yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan. Perbedaan diantaranya ditentukan berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak yang bekerja di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua, sedangkan anak yang hidup di jalan sudah putus hubungan dengan orang tua.

Terus terang saya ngasih acungan jempol buat teman-teman yang hidup di jalan… Mereka punya kebanggaan, berpenampilan ngepunk, mereka tetap bertahan walau orang-orang sekitar yang melihat menilainya macam-macam. Bagi gua itu sebuah bentuk perlawanan juga. Melawan pikiran-pikiran orang yang sudah dimapankan — yang menganggap negatif karena melihat penampilan orang lain yang beda, menyimpang, diluar kelaziman. Tapi yang lebih penting adalah nilai-nilai punk dalam prakteknya berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa survive, menjalin kebersamaan, saling peduli satu sama lain dan tetap mengunggulkan rasa dan kebebasan. Hidup di jalanan kan penuh tantangan. Apalagi sesusia mereka, ada yang masih anak-anak, yang orang bilang diluar kewajaran — ketika anak-anak yang lain kan sekolah, pulang ke rumah, bermain, latihan ini dan itu, les piano … Mereka hidup di jalanan mencari uang untuk membantu orangtua. Kadang dikejar dan digaruk trantib. Digertak atau diperas orang yang sok jagoan, macho… Tapi dalam posisi bertahan hidup di jalan, mereka mandiri, sehat, gembira, dan punya rasa humor. Buat gue itu penting, manusiawi banget!

Tapi, di sisi lain saya prihatin ketika melihat para punker yang hidup di jalan, hanya menjadikan jalanan sebagai tempat nongkrong dan mabuk-mabukan. Mereka mencari uang dengan mengamen tapi hasil jerih payahnya itu hanya untuk membeli obat-obatan (drugs) dan minuman beralkohol. Mereka masih berusia belasan tahun, tiba-tiba memutuskan berhenti sekolah dan lari dari rumah, karena terpengaruh teman-teman nongkrong . Mereka menenggak minuman dan menelan puluhan tablet dextro (tablet obat batuk yang disalahgunakan untuk mabuk). Banyak dari mereka adalah perempuan berusia dini, dan menjadi korban pelecehan seksual.

Bagi mereka, punk sebatas tempat pelarian. Lari dari kesumpekan rumah. Lari dari tekanan hidup. Lari dari tanggungjawab. Lari dari kenyataan! Di kepala mereka, dengan berpenampilan diri seperti punker, mereka bisa bebas dari segala bentuk tekanan hidup, bebas semau-gue, bebas nenggak minuman atau menelan puluhan tablet dextro, bebas mengekspresikan diri sebebas-bebasnya walau masyarakat di sekitarnya terganggu,Pada kenyataannya, punk adalah satuan-satuan kecil komunitas yang menyebar. Di luar itu, adalah massa cair seperti yang dipresentasikan para gerombolan yang beratribut punk di jalanan.

Berbeda dengan gerombolan yang beratribut punk di jalanan yang ngamen untuk mabuk, punk jalanan yang beken juga di sono disebut street punk adalah sebuah gerakan budaya tanding ( counter cilture) yang melawan kemapanan budaya dominan yang dibentuk oleh sistem kekuasaan. Bagi seorang punk, jalanan adalah kehidupan. Di jalanan mereka bertemu dengan orang-orang, di jalanan mereka saling berbagi pengetahuan, di jalanan mereka berdagang, di jalanan mereka menyuarakan kebenaran melalui nyanyian. Pada 1980-an, terjadi bentrokan hebat antara punker dan hippies, karena perbedaan persepsi tentang kehidupan di jalanan. Bagi hippies, jalanan adalah ruang publik sebagai tempat mereka mengekspresikan kemuakan akan kehidupan yang diwarnai perang dan ancaman nuklir. Di jalanan mereka berdemonstrasi membagi-bagikan bunga, seks bebas (war no, sex yess) dan menenggak obat-obatan (drugs) –mereka ingin lari (escape) dari kehidupan ini. Kebalikannya, punk melihat kehidupan ini sebagai projeksi, tergantung si individu itu untuk melakukan perubahan. Perubahan itu dimulai dari yang tidak ada, doing more with less, menjadi sesuatu yang ada dan berarti. Punk tak pernah lari dan sembunyi ketika dihadapkan pada problematika kehidupan. Hadapi! Tuntaskan!

Melihat fenomena gerombolan yang beratribut punk yang nongkrong, mabuk dan mondar-mandiri di Jakarta akhir-akhir ini, tidak perlu dipertanyakan lagi… Mereka bukan punk! Mereka hanya beratribut punk tetapi jalan hidupnya adalah hippies! Hanya hippies yang lari dari kehidupan, dengan nenggak minuman dan obat-obatan (drugs), mereka lari dari kebebasan (escape from freedom). ***

Rabu, 07 Januari 2009

WANTED!!!

WANTED!! Remaja Indonesia yang rela hidup tanpa HP,make up,dan produk-produk kecantikan dan segala kesenangan yang ditawarkan oleh para kapitalis-kapitalis.

Pokoknya Anti Kemapanan lha….!!!

Memang sulit mengajak remaja Indonesia saat ini untuk menjadi murtad terhadap pemujaan mereka kepada gaya hidup westernisasi yang selama ini mereka anut.Shooping di mall,nongkrong di warung makan ala Amerika,seperti Mcd,Kfc dan mengkonsumsi minuman ala orang-orang sono,kayak coca-cola gitu….

Selama ini mereka tidak sadar bahwa makanan yang selama ini mersuk di tubuh mereka adalah makanan yang di negeri asalnya sono berstatus makanan yang tidak sehat.Lha disini malah digemari.Masyarakat kita terutama para remaja merasa gengsinya naik bila sudah nongkrong dan makan di warung makan ala Amerika.Para kawula muda itu tidak sadar bahwa makanan fast food produksi luar negeri yang mereka konsumsi dapat merusak kesehatan, dan juga secara tidak langsung kita menyumbang untuk para penjahat perang untuk melakukan lebih banyak lagi perang yang menimbulkan banyak korban.Sebuah riset menemukan fakta bahwa tubuh kita memerlukan 32 gelas untuk menetralisir 1 kaleng minuman bersoda macam coca-cola yang sudah kita teguk hampir setiap hari.Bayangkan, sangat kasihan tubuh kita sudah kita beri asupan minuman yang sangat membahayakan tubuh.

Truz kita lihat lagi realitas remaja Indonesia, terutama kaum Hawa nie…

Para cewek-cewek selalu gelisah dengan penampilan fisik yang dimilikinya, terutama kecantikan wajah.Menurut mereka kecantikan diukur dari warna kulit.Kalau putih berarti cantik.Sehingga wajar jika mereka menjadi korban iklan alat-alat kecantikan domestik maupun luar negeri.Jika mereka telah memakai produk tersebut merasa diri lebih percaya diri .Ceileh… yang bener !!!

Semua iklan di TV secara tidak langsung juga mendiskriminasi antara wanita berklit putih dengan wanita berkulit hitam.”Kulit hitam, kacian deh loe”,mereka yang memiliki kulit hitam segera ingin membenahi kulit tubuhnya dengan produk-produk iklan .Mereka menganggap itu adalah solusi terbaik.Seolah mereka tersihir dengan dunia global yang semakin memperbudak manusia .Namun cewek dengan kulit hitam ga’ usah minder,karena putih cantik itu kan standar cowok Indonesia.Bagi orang-orang bule orang berkulit hitam adalah seksi dan indah,hal ini dikarenakan kebosanan pada culture mereka yang mayoritas perempuan berkulit putih.Bagi para remaja Indonesia jangan mau jadi korban alat-alat kecantikan,itu tipu muslihat yang hanya akan mengeruk uang kalian.Kita jangan mau dibuat susah dengan alat-alat global.

Ingat kawan jangan sampai para kapitalis-kapitalis dengan alat-alat globalnya mengendalikan hidup kita dengan membuat kita terlalu menggantungkan diri pada mereka dan kita pun akan tambah miskin dan bodoh oleh semua itu.

Jumat, 11 April 2008

PENDIDKAN UNTUK RAKYAT………………? NONSENS

Melihat dari judul diatas, kita pasti beranggapan bahwa usaha-usaha pemerintah untuk menjamin hak-hak rakyatnya hanyalah angin belaka, terutama di bidang pendidikan.Padahal kita tahu sendiri bahwa “mencerdaskan kehidupan berbangsa” adalah salah satu dari tujuan berdirinya Republik ini, namun kita lihat bagaimana dunia pendidikan di negri ini.

Di bidang pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara-negara tetangga kita, padahal negara2 tetangga kita dulu mesti mengimport tenaga pengajar untuk diperkerjakan di negrinya sono.Tapi sekarang kita lihat di sekitar kita bnyak ank-anak yang tdk sekolah.Program wajib belajar 9 tahun yang di canangkan pemerintah pemerintah dan juga dengan adanya program BOS, ternyata tidak efektif untuk mengurangi jumlah anak-anak putus sekolah di tanah air ini.Dana untuk pendidikan yang tercantum dalam APBN terus di sunat untuk keperluan yang tidak jelas.Pesangon para birokrat gila dan para pejabat terus di tambah, padahl uang yang mereka gunakan itu adalah hasil dari sumbangan rakyatnya sendiri yang nantinya harus digunakan demi kpentingan penyumbang itu sendiri, nyatanya masih banyak teman-teman kita yang belum merasakan hasil dari sumbangan mereka sendiri.Sembako murah, pendidikan murah, biaya kesehatan gratis itu hanya ada di negri antah berantah bukan disini.

Kita lihat realita banyak dijumpai anak-anak yang masih berusia sekolah harus rela terampas dunia bermainnya demi membantu orang tua mereka agar dapur tetap berasap.
Hal ini banyak kita jumpai tidak hanya di kota bahkan di pelosok desa.Berjuta anak bangsa tidak sekolah, karena biaya yang semakin mencekik leher.Pendidikan tanpa batas adalah hal yang kita dambakan, tanpa adanya perbedaan antara si kaya dan si miskin kita semua sama, volume otak kita sama, lahir juga dari lobang vagina, apa yang mesti di banggakan ?

Pendidikan untuk rakyat yang kita idam idamkan selamaini hanyalh khayalan semata .Banyak sekolah-sekolah di negri ini sudah tercemar sistem kapitalis tetapi mereka tidak sadar telah menjalankan faham biadab ini.Sebagai contoh seorang anak konglomerat yang bodoh nya sebodoh kerbau pun bisa akan dipermudah jalannya agar bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, di lain pihak seorang anak buruh tani yang otaknya secerdas Albert Einstein tidak akan bisa melanjutkan Sekolah nya hanya dikarenakan tidak bisa membayar sejumlah uang yang diinginkan sekolahnya.Pendidikan di Negara dunia ke-3 ini tidak akan berubah, seperti di zaman kolonial dimana hnya anak –anak dari para yang berduit dan yang berkuasa saja yang bisa sekolah. Tidak salah jika Marjinal dalm salah satu lagunya mengatakan bahwa pendidikan itu ajang bisnis.Ajang bisnins bagi guru –guru yang tidak sadar akan tugas mereka dan oknum-oknum lainnya yang hanya mengincar keuntungan dari adanya lembaga pendidikan ini.Tentunya Ki Hajar Dewantara akan sedih bila melihat realita pendidikan di negri yang dicintanya ini, di mana masih banyak orang-orang yang menyandang gelar sebagai “Orang yang buta huruf dan tidak tau baca dan tulis”

PENDIDIKAN TANPA BATAS
BUKANLAH UNTUK RAKYAT
PEMBODOHAN SAMPAI JADI MAYAT
(Sepotong lagu dari Bunga Hitam)

(Penulisan ini terinspirasi dari lagu Marjinal dan Bunga Hitam yang berjudul “Aku mau sekolah gratis dan Pendidikan tanpa batas)




Sabtu, 22 Maret 2008

LemBar Kata kAta gElap

suara -suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau diam
aku siapkan untukmu pemberontakan